“Berhenti merokok” adalah suatu keinginan yang telah dicoba oleh banyak orang[perokok] yang menyadari akan ancaman akibat merokok. Ada yang berhasil tetapi lebih banyak yang gagal meninggalkan kebiasaan menikmati gaya hidup yang sebenarnya mengancam hidupnya sendiri, meskipun telah mencoba berulang kali.Berbagai sebab atau alasan kegagalan yang dikemukakan. Ada yang karena lingkungannya kebanyakan perokok,sehingga upaya tidak merokokpun kalah oleh godaan aroma rokok disekitarnya. Yang lain bilang suka bengong kalau tidak merokok. Yang hebat ,ada yang mengatakan dengan merokok maka inspirasi akan lebih cepat didapatkan. Semua itu menggambarkan betapa sulitnya menghentikan kecanduan rokok,karena bagi perokok, merokok memang luar biasa nikmatnya, sampai sering mendahulukan merokok daripada makan. Saya dapat mengatakan hal ini karena saya pernah jadi perokok berat .
Saya merokok pada usia belasan tahun, masih duduk di bangku SMP hingga usia 42 tahun. Sungguh dapat saya rasakan nikmatnya yang waktu itu belum ada rokok berfilter. Segala macam merek rokok pernah saya isap. yang penting tembakau , dengan mengabaikan segala gangguan kesehatan dan keuangan akibat merokok. Maka tidak mengherankan jika kita lihat orang yang taraf hidupnya tergolong miskin merokok juga, meskipun harga rokok tidak dapat dibilang murah. Memang kalau sudah jadi perokok, merokok tidak dapat ditunda dan menjadi kebutuhan. Ada keinginan berhenti waktu itu, setelah dokter di satuan kerja mengatakan bahwa sakit yang saya derita sebagai akibat terlalu banyak merokok, tetapi seperti yang saya uraikan diatas, sulit melaksanakannya.
Kini saya bebas dari rokok, tetapi masih sering menjadi perokok pasif, karena orang lain merokok ditempat umum,terutama sarana transportasi. Bagaimana saya bisa berhenti dengan mudah dan secara langsung adalah sederhana. Kalau sekarang ada iklan di TV yang menawarkan cara menghentikan merokok yang dijamin jitu , tidak akan seampuh seperti yang saya alami. Saya sudah coba berkali-kali namun sia-sia sampai pada suatu hari anak saya yang pada saat itu berusia 9 th tiba-tiba bertanya bernada koreksi terhadap kelakuan ayahnya yang perokok. ” Pak, di TV katanya merokok tidak baik. Kok Bapak merokok? Tertegun saya mencermati pertanyaan yang sederhana dan polos dari seorang anak kepada ayahnya. Benar-benar kena sanubari saya sebagai seorang ayah yang harus selalu memberi contoh baik bagi anak. Langsung saya jawab bahwa saya berjanji tidak merokok lagi. Betapa tidak bijaknya saya bila saya melakukan hal yang dimata anak tidak baik. Saya berpikir bila saya abaikan bisa-bisa anak tidak akan patuh bila ditegur karena kesalahan yang dia lakukan, karena ayahnya memberikan contoh.
Alhamdulillah 15 tahun sudah saya terbebas dari belenggu asap tembakau yang sebenarnya racun, dan sejak itu pula saya sangat jarang ke dokter untuk penyakit masa lalu, radang tenggorokan sampai batuk berdarah.